Versi.
Sabtu malam, bersama satu insan yang tak ku kenali, namun hatinya seperti tak lagi memantul pada cahaya, dan itu cukup familiar. Ia tak bicara banyak, hanya memandangi laut seperti sedang menimbang batas antara pulang dan hilang. Ia berkata bahwa hidup adalah utang napas yang tak pernah ia setujui sejak awal. Aku mendengarkannya, sebab di dalam diamnya, aku melihat bayangan yang kupendam sendiri, rasa ingin pergi, rasa tak cukup, rasa yang tumbuh seperti akar gelap di bawah kulitku. Di malam-malam sunyi, ia bersujud bukan untuk menuntut jawaban, melainkan menahan air mata agar tak jatuh sebagai gugatan, dan di antara iman yang bergetar halus dan rindu yang patah perlahan, ia belajar satu hal yang paling menyakitkan, bahwa kadang Tuhan tidak sedang tidak adil, Ia hanya sedang menulis takdir dengan tinta yang baru bisa dibaca setelah hati ini benar-benar hancur. Malam itu, kami duduk dalam peluk hujan. Ia menggenggamku erat, lebih erat dari biasanya, seolah tahu bahwa w...