Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Lili Putih.

Gambar
Dunia, menyukai garis yang pasti, arah yang pasti, langkah yang bisa ditebak dan disepakati bersama. Sementara aku, adalah lengkung yang tak pernah diminta hadir, jejak yang selalu dianggap salah sebelum sempat dibaca. Maka dari itu, aku selalu belajar hidup tanpa menggenggam, tanpa berharap untuk digenggam, tanpa menuntut apa pun dari dunia yang tak pernah benar-benar menyediakan ruang. Kepada Tuhan, segala yang tak mampu kuucapkan, kubiarkan tinggal dalam diam yang panjang. Bukan karena aku tak memiliki isi, melainkan karena apa yang ada dalam diriku tak pernah menemukan bentuk yang diperbolehkan. Di suatu negeri yang jauh, "Lili Putih" dipercaya sebagai tanda mati dalam keadaan suci. Hening, bersih, seolah segala yang tak sempat dipahami akhirnya dilepas tanpa cela. Dan, aku ingin menjadi Lili Putih itu, pergi dalam putih yang tenang, agar tak lagi harus menjelaskan sesuatu yang tak pernah diberi ruang untuk ada. 

Sienna.

Gambar
Aku pernah mencintai seseorang dengan cara yang tidak pernah benar-benar ada. Ia hadir seperti cahaya yang tenang, tak pernah kumiliki, namun selalu cukup untuk membuatku bertahan lebih lama dari seharusnya, sebuah rasa yang sejak awal belajar untuk berjalan dalam diam, dan memang tidak pernah diberi tempat untuk tumbuh terang .  Aku tidak pernah mengatakan apa pun. Tidak pernah mengganggu hidupnya dengan pengakuan yang mungkin hanya akan menjadi beban . Aku hanya menyimpannya, diam-diam, rapi, seolah perasaan bisa dilipat dan disembunyikan seperti surat yang tak pernah dikirim. Namun diam bukan berarti kosong. Di dalam kepalaku, kami pernah hidup. Kami pernah tertawa tanpa takut, berjalan tanpa menoleh ke belakang, tanpa perlu mengukur langkah atau menahan cara kami saling memandang, dan menciptakan dunia kecil yang hanya milik kami.  Bahkan pernah ada satu malam di mana aku bermimpi begitu jelas, kami berdiri di sebuah rumah yang hangat, dan di antara kami ada se...

Memori yang Masih Bersenandung.

Gambar
Hari-hari bergerak ke depan, namun ada bagian yang diam di tempat yang sama. Tidak ada yang kembali, namun tidak semuanya benar-benar pergi. Dan entah kenapa, di tengah segala yang terasa menyiksa, masih ada bagian kecil yang bertahan, menikmati yang sementara, seolah itu cukup untuk kita agar terus hidup. Karena, segala yang terasa abadi, perlahan akan berubah menjadi sementara. Maka, perlu rasanya belajar menikmati yang ada, tanpa menuntutnya untuk menetap. Menggenggam seperlunya, dan melepas dengan harmoni hati yang menerima. Pahami, bahwa yang singkat pun bisa cukup, jika sempat dirasakan dengan tulus. Bergema, sampai selamanya.