Sienna.


Aku pernah mencintai seseorang dengan cara yang tidak pernah benar-benar ada.

Ia hadir seperti cahaya yang tenang, tak pernah kumiliki, namun selalu cukup untuk membuatku bertahan lebih lama dari seharusnya, sebuah rasa yang sejak awal belajar untuk berjalan dalam diam, dan memang tidak pernah diberi tempat untuk tumbuh terang

Aku tidak pernah mengatakan apa pun. Tidak pernah mengganggu hidupnya dengan pengakuan yang mungkin hanya akan menjadi beban. Aku hanya menyimpannya, diam-diam, rapi, seolah perasaan bisa dilipat dan disembunyikan seperti surat yang tak pernah dikirim.

Namun diam bukan berarti kosong. Di dalam kepalaku, kami pernah hidup. Kami pernah tertawa tanpa takut, berjalan tanpa menoleh ke belakang, tanpa perlu mengukur langkah atau menahan cara kami saling memandang, dan menciptakan dunia kecil yang hanya milik kami. 

Bahkan pernah ada satu malam di mana aku bermimpi begitu jelas, kami berdiri di sebuah rumah yang hangat, dan di antara kami ada sesosok anak kecil, Sienna. Yang memanggil kami dengan suara lembut. Ia Bukan darah kami, mungkin, tapi cinta kami cukup untuk membuatnya nyata. Aku terbangun dengan dada penuh, seolah aku baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah kumiliki.

Sementara itu, di dunia yang sesungguhnya, dirinya berjalan ke arah yang lain. Ke arah yang lebih terang, diterima, dan mudah untuk dicintai tanpa harus disembunyikan. Ia tersenyum di samping seseorang yang bisa menggenggam tangannya tanpa rasa takut, tanpa perlu khawatir siapa yang melihat. Ia tidak perlu menahan kata-kata di tenggorokan dan bersama dengan Seseorang yang dalam banyak hal, adalah versi yang lebih benar untuknya, lebih sesuai dengan apa yang dunia harapkan, apa yang Tuhan izinkan, dan apa yang orang-orang bisa terima dengan lapang. 

Dan aku? Aku tetap di sini, di antara kemungkinan yang tidak pernah terjadi, di antara ruang yang bahkan tidak pernah diakui keberadaannya.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah ia pernah tahu. Bukan tentang perasaanku, tapi tentang versi kehidupan yang pernah kubangun bersamanya di dalam pikiranku.

Tentang bagaimana aku pernah melihatnya menjadi rumah, menjadi masa depan, bahkan menjadi seseorang yang kupanggil pulang setiap hari, dalam dunia yang tidak meminta kami untuk menjadi selain diri kami sendiri.

Tapi mungkin tidak. Mungkin baginya, aku hanya satu dari sekian wajah yang lewat tanpa jejak.

Sementara bagiku, ia adalah seluruh cerita yang tidak pernah sempat dimulai.

Ada hari-hari di mana aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini akan berlalu, bahwa waktu akan mengikis semuanya. Tapi setiap kali aku mengingatnya, bukan dirinya yang sekarang, melainkan dirinya yang pernah hidup di dalam kepalaku, rasa itu kembali dengan utuh. Bukan sebagai harapan, melainkan sebagai luka yang tidak pernah diberi kesempatan untuk sembuh, karena ia bahkan tidak pernah ku akui sebagai luka, sebuah rasa yang sejak awal sudah tahu, ia tidak akan pernah punya tempat untuk pulang.

Dan mungkin, yang paling menyakitkan dari semua ini bukanlah karena aku tidak memilikinya.

Melainkan karena aku pernah begitu yakin…
Bahwa di semesta lain yang tidak pernah ada, kami bahagia, tanpa perlu bersembunyi, tanpa perlu merasa salah.

Dan Sienna, memanggil kami berdua dengan suara kecil, seolah kami adalah rumahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Versi.

Aku Cinta dari Dua Orang yang Tak Lagi Saling Menyebut Nama.