Versi.


Sabtu malam, bersama satu insan yang tak ku kenali, namun hatinya seperti tak lagi memantul pada cahaya, dan itu cukup familiar. Ia tak bicara banyak, hanya memandangi laut seperti sedang menimbang batas antara pulang dan hilang. Ia berkata bahwa hidup adalah utang napas yang tak pernah ia setujui sejak awal. Aku mendengarkannya, sebab di dalam diamnya, aku melihat bayangan yang kupendam sendiri, rasa ingin pergi, rasa tak cukup, rasa yang tumbuh seperti akar gelap di bawah kulitku.

Di malam-malam sunyi, ia bersujud bukan untuk menuntut jawaban, melainkan menahan air mata agar tak jatuh sebagai gugatan, dan di antara iman yang bergetar halus dan rindu yang patah perlahan, ia belajar satu hal yang paling menyakitkan, bahwa kadang Tuhan tidak sedang tidak adil, Ia hanya sedang menulis takdir dengan tinta yang baru bisa dibaca setelah hati ini benar-benar hancur. 

Malam itu, kami duduk dalam peluk hujan. Ia menggenggamku erat, lebih erat dari biasanya, seolah tahu bahwa waktu sudah habis.

 "Dan jika suatu hari aku lenyap tanpa suara, jangan kirimi aku bunga, aku sudah lama menanam kematian dalam diriku sendiri" bisiknya.  

Aku memejam, memeluknya lebih erat, berharap kehangatanku bisa menunda dingin yang ia simpan. Aku sungguh percaya, malam itu aku menyelamatkan seseorang. Aku percaya pelukanku berhasil membuatnya bertahan.

Tapi saat pagi menjelma, hanya aku yang terbangun. Pantai kosong, laut masih sama, hanya tak ada lagi bayangan yang menungguku. Aku berdiri dan menatap jejak di pasir, menyusuri tempat kami terakhir duduk. Lalu kulihat sesuatu tertancap di pasir, sebuah foto tua, basah, wajah di dalamnya membuat napasku runtuh. Itu aku. Tapi lebih muda, lebih kosong. Semua percakapan semalam, luka-lukanya, caranya memelukku, semua adalah milikku. Malam itu, yang kupeluk adalah diriku sendiri yang hilang dulu, versi diriku yang pernah mencoba mengakhiri segalanya dan tak pernah kembali. Dan pagi ini, ia pergi, membawaku yang dulu, agar aku bisa hidup sebagai aku yang sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sienna.

Aku Cinta dari Dua Orang yang Tak Lagi Saling Menyebut Nama.