Postingan

Lili Putih.

Gambar
Dunia, menyukai garis yang pasti, arah yang pasti, langkah yang bisa ditebak dan disepakati bersama. Sementara aku, adalah lengkung yang tak pernah diminta hadir, jejak yang selalu dianggap salah sebelum sempat dibaca. Maka dari itu, aku selalu belajar hidup tanpa menggenggam, tanpa berharap untuk digenggam, tanpa menuntut apa pun dari dunia yang tak pernah benar-benar menyediakan ruang. Kepada Tuhan, segala yang tak mampu kuucapkan, kubiarkan tinggal dalam diam yang panjang. Bukan karena aku tak memiliki isi, melainkan karena apa yang ada dalam diriku tak pernah menemukan bentuk yang diperbolehkan. Di suatu negeri yang jauh, "Lili Putih" dipercaya sebagai tanda mati dalam keadaan suci. Hening, bersih, seolah segala yang tak sempat dipahami akhirnya dilepas tanpa cela. Dan, aku ingin menjadi Lili Putih itu, pergi dalam putih yang tenang, agar tak lagi harus menjelaskan sesuatu yang tak pernah diberi ruang untuk ada. 

Sienna.

Gambar
Aku pernah mencintai seseorang dengan cara yang tidak pernah benar-benar ada. Ia hadir seperti cahaya yang tenang, tak pernah kumiliki, namun selalu cukup untuk membuatku bertahan lebih lama dari seharusnya, sebuah rasa yang sejak awal belajar untuk berjalan dalam diam, dan memang tidak pernah diberi tempat untuk tumbuh terang .  Aku tidak pernah mengatakan apa pun. Tidak pernah mengganggu hidupnya dengan pengakuan yang mungkin hanya akan menjadi beban . Aku hanya menyimpannya, diam-diam, rapi, seolah perasaan bisa dilipat dan disembunyikan seperti surat yang tak pernah dikirim. Namun diam bukan berarti kosong. Di dalam kepalaku, kami pernah hidup. Kami pernah tertawa tanpa takut, berjalan tanpa menoleh ke belakang, tanpa perlu mengukur langkah atau menahan cara kami saling memandang, dan menciptakan dunia kecil yang hanya milik kami.  Bahkan pernah ada satu malam di mana aku bermimpi begitu jelas, kami berdiri di sebuah rumah yang hangat, dan di antara kami ada se...

Memori yang Masih Bersenandung.

Gambar
Hari-hari bergerak ke depan, namun ada bagian yang diam di tempat yang sama. Tidak ada yang kembali, namun tidak semuanya benar-benar pergi. Dan entah kenapa, di tengah segala yang terasa menyiksa, masih ada bagian kecil yang bertahan, menikmati yang sementara, seolah itu cukup untuk kita agar terus hidup. Karena, segala yang terasa abadi, perlahan akan berubah menjadi sementara. Maka, perlu rasanya belajar menikmati yang ada, tanpa menuntutnya untuk menetap. Menggenggam seperlunya, dan melepas dengan harmoni hati yang menerima. Pahami, bahwa yang singkat pun bisa cukup, jika sempat dirasakan dengan tulus. Bergema, sampai selamanya.

If

Gambar
Jika sungai diizinkan memilih jalannya sendiri tanpa disebut tersesat, mungkin aku tak perlu membendung arusku sendiri. Jika kompas di dalam dadaku menunjuk ke arah lain, mungkin aku tak perlu belajar bagaimana rasanya berjalan melawan angin. Jika bunga tidak dihakimi dari bentuk mekarnya, barangkali tak ada yang mempertanyakan mengapa satu bunga condong pada matahari tertentu. Maka katakan padaku, jika Sang Pencipta mengetahui setiap getar di dalam hatiku, mengapa aku merasa harus meminta maaf atas peta yang telah digariskan sejak awal?

Residu.

Gambar
Aku mencintai diriku yang dulu dengan diam, seperti senja mencintai langit tepat sebelum ia menghilang. Tanpa drama. Hanya penerimaan, dan perpisahan berbentuk luka yang masih berbekas. Mereka menyebutnya melangkah pergi. Namun rasanya lebih seperti aku tetap berdiri di tempat, sementara segala yang bermakna perlahan berjalan menjauh. Bahkan saat seluruh dunia menatapku remeh, aku menunduk bukan karena kalah, melainkan sebagai penghormatan. Bagi diriku,  yang bertahan melewati masa paling gelap. Perpisahan ini nyaman, bukan karena ia tak menyakitkan, melainkan karena ia mengajarkanku cara melepaskan tanpa membenci diriku sendiri yang pernah ingin mati.

Versi.

Gambar
Sabtu malam, bersama satu insan yang tak ku kenali, namun hatinya seperti tak lagi memantul pada cahaya, dan itu cukup familiar. Ia tak bicara banyak, hanya memandangi laut seperti sedang menimbang batas antara pulang dan hilang. Ia berkata bahwa hidup adalah utang napas yang tak pernah ia setujui sejak awal. Aku mendengarkannya, sebab di dalam diamnya, aku melihat bayangan yang kupendam sendiri, rasa ingin pergi, rasa tak cukup, rasa yang tumbuh seperti akar gelap di bawah kulitku. Di malam-malam sunyi, ia bersujud bukan untuk menuntut jawaban, melainkan menahan air mata agar tak jatuh sebagai gugatan, dan di antara iman yang bergetar halus dan rindu yang patah perlahan, ia belajar satu hal yang paling menyakitkan, bahwa kadang Tuhan tidak sedang tidak adil, Ia hanya sedang menulis takdir dengan tinta yang baru bisa dibaca setelah hati ini benar-benar hancur.  Malam itu, kami duduk dalam peluk hujan. Ia menggenggamku erat, lebih erat dari biasanya, seolah tahu bahwa w...

Apakah Bisa atau Pasti Bisa?

Gambar
'Rabu, 11 Juni di pukul 00.06' aku menorehkan sebuah tulisan yang kini akan membahas geramuk dalam hati ku yang tak kunjung usai akan kemampuan ku akan jenjang yang jauh lebih tinggi. Apakah tekanan yang didapat selama ini akan sepadan dengan hasil akhir yang membanggakan? atau haruskah aku optimis untuk memperjuangkan hal ini dan menetapkan pikiran ku untuk berfikir bahwa 'Aku Pasti Bisa'.  Sepertinya tidak semudah itu, sendiri. Di setiap kesempatan apapun aku selalu merasa sendiri, dan sejujurnya semua itu tidak hanya sebuah perasaan. Namun kenyataan yang ku balut dengan rasa tidak transparan ku dalam mengolah sebuah kata dan emosi. Proses pendewasaan ku benar-benar menjadi proses dimana aku selalu sendirian, dikala peran orang tua semestinya mengayomi. Aku dituntut untuk menjadi seseorang yang mandiri, meskipun dalam hati aku merasa kewalahan dengan setiap tekanan yang diberikan. Seperti ketika malam mendekap aku tertidur dan mulai bangun diantara rasa g...