Apakah Bisa atau Pasti Bisa?


'Rabu, 11 Juni di pukul 00.06' aku menorehkan sebuah tulisan yang kini akan membahas geramuk dalam hati ku yang tak kunjung usai akan kemampuan ku akan jenjang yang jauh lebih tinggi. Apakah tekanan yang didapat selama ini akan sepadan dengan hasil akhir yang membanggakan? atau haruskah aku optimis untuk memperjuangkan hal ini dan menetapkan pikiran ku untuk berfikir bahwa 'Aku Pasti Bisa'. 

Sepertinya tidak semudah itu, sendiri. Di setiap kesempatan apapun aku selalu merasa sendiri, dan sejujurnya semua itu tidak hanya sebuah perasaan. Namun kenyataan yang ku balut dengan rasa tidak transparan ku dalam mengolah sebuah kata dan emosi. Proses pendewasaan ku benar-benar menjadi proses dimana aku selalu sendirian, dikala peran orang tua semestinya mengayomi. Aku dituntut untuk menjadi seseorang yang mandiri, meskipun dalam hati aku merasa kewalahan dengan setiap tekanan yang diberikan. Seperti ketika malam mendekap aku tertidur dan mulai bangun diantara rasa gelisah dan pemikiran berlebihan akan sesuatu yang sebenernya belum terjadi.

Dan ya, hingga pada akhirnya aku sadari bahwa aku tidak bisa untuk terus terjebak dalam labirin gelap pikiran ku sendiri. 
Dan malam ini, meskipun aku masih merasa bahwa hidup membuat ku sedikit kewalahan. Aku mulai belajar bahwa ternyata sendiri bukan berarti Tak Berarti. Luka, sesakit apapun bisa memiliki ruang dimana cahaya masuk dan perlahan menyembuhkannya.

Aku mulai percaya bahwa mungkin aku tidak harus menjadi seseorang yang sempurna untuk bisa berhasil. Aku hanya perlu menjadi seseorang yang tidak menyerah. Karena mungkin keberhasilan bukan milik mereka yang selalu kuat, tapi milik mereka yang tak pernah berhenti mencoba, meski dalam keadaan rapuh.

Dan jika suatu hari nanti aku berhasil berdiri di puncak yang selama ini kupandangi dari kejauhan, aku akan tersenyum, bukan karena semua menjadi mudah, tapi karena aku memilih untuk terus berjalan… saat tak ada satu pun yang percaya aku bisa, kecuali aku sendiri.

Apakah bisa? 

Enyahkan, pertanyaan tersebut. 

'Aku Pasti Bisa' meskipun demikian ini sekadar sugesti, namun janji yang kuikat erat di dada kepada versi ku yang tengah menangis akan selalu bergelimang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Versi.

Sienna.

Aku Cinta dari Dua Orang yang Tak Lagi Saling Menyebut Nama.