Aku Cinta dari Dua Orang yang Tak Lagi Saling Menyebut Nama.

Biar daku berlayar, biar kehilangan ini menjadi saksi. Hidup terasa tidak sehati. Berlayar seperti bajak laut di tengah samudra kebingungan, dihadapi sebuah pilihan.

"Ikut Ayah atau Ibu, nak?"

Lugas ya, ringkas. Hanya perlu memilih dengan segenap hati. Menoleh dirinya, kanan dan kiri. Banyak pikiran yang muncul, namun tetap tidak dipahami. Kenapa harus memilih? kenapa tidak dua-duanya saja? bukannya mereka berdua dua doa yang menjelma nyata?

Degup si hati terpatri kepada sang mutiara hati. Dia, takhta tertinggi yang singgah di hati bahkan hingga kini. Radar itu tidak salah, terpanggil nya aku ke takdir yang sampai saat ini masih ku susun untuk mendapatkan susunan terbaik untuk dipertahankan nanti. Keputusan yang tak pasti, dan tidak teryakinkan oleh sang sanubari membuat diri ini kehilangan arah "sekali lagi". Waktu bagai lembaran buku yang tersalip oleh sang angin menuju beberapa bagian selanjutnya. Seperti artikel online, yang ketika di-swipe akan meluncur ke bagian antah berantah penuh iklan yang membahas obat herbal dan gambar yang secara tak langsung membahas tentang topik suami-istri.

Bagian kehidupan yang entah sudah ada di bab mana kali ini. Terus dibuat mengarungi setiap gelombang yang menyapu habis kenangan yang tertancap tajam dalam ingatan. Oh, sudah sampai manakah? Biar daku berlayar, biar kehilangan ini menjadi saksi. Arah yang mana, mengapa semuanya terasa salah. Dekapan gelap itu mulai terasa. 

Dalam sekejap mata, disadari oleh segenap mata. Anak yang dulu ditorehkan sebuah pertanyaan membingungkan kini telah tumbuh dewasa. Punya banyak cerita, namun entah untuk dibagikan kepada siapa. Oh ya, sekarang harus pulang kemana?

( Rumah, ya? atau "Rumah" ).

Perlahan, diri ini seperti kelopak bunga yang berterbangan. Tanpa arah, tujuan, kepastian dan Rumah untuk berpulang. Menunggu nisan yang dirindukan telapak bumi yang tak sabar menanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Versi.

Sienna.